Imigrasi: Masyarakat dalam Peubahan Abadi |
Para imigran dapat sering menemukan sebuah daerah kantong orang-orang yang memiliki ciri-ciri atau kebudayaan yang sama di negara tuan rumah mereka, menonton program-program TV asing melalui satelit televisi, berkomunikasi dengan keluarga mereka melalui telepon dan internet, dan mengunjungi negara asal mereka dengan lebih mudah. Mengingat hal ini, sebuah pertanyaan penting muncul: bagaimana bangsa-bangsa tersebut mempertahankan jati diri kebudayaan mereka? Selanjutnya, haruskah perlindungan atas jati diri kebudayaan masih menjadi cita-cita mengingat peningkatan sifat multibudaya dari masyarakat-masyarakat seluruh dunia?
Belanda, Amerika Serikat, dan UEA, menemukan diri mereka pada sebuah garis lurus dari sebuah spekrtum jika dilihat dari kehadiran imigran dalam sebuah budaya dominan. Sejak lama, Belanda memiliki preseden sejarah dalam keberhasilan membaurkan para imigran baru ke dalam masyarakat Belanda. Amerika Serikat jatuh pada sekitar bagian tengah dari spektrum tersebut, dengan adanya bahasa dan budaya yang dominan, namun memiliki reputasi sebagai "panci pembauran" berbagai bangsa. Dubai, bagian dari Uni Emirat Arab (UEA), berada pada ujung lain dari spektrum tersebut: mayoritas penduduknya terdiri atas para imigran yang tinggal sementara di Dubai, dengan harapan mereka akan bekerja secara pararel dengan budaya dan masyarakat setempat, tetapi bukan sebagai bagian darinya.
Penduduk asli sesungguhnya sangat kecil sehingga pemerintah menerapkan sebuah kebijakan yang dikenal sebagai "Emiratisasi" yang menetapkan kuota bagi jumlah warga UEA yang harus dipekerjakan oleh perusahaan atau industri tertentu. Hingga belum lama ini, kebijakan imigrasi UEA hanya sekedar memperpanjang visa kerja, jarang memberikan kewarganegaraan. Namun, Dubai sekarang telah mulai menjual properti bagi orang asing di lokasi-lokasi tertentu. Ini berarti bahwa sejumlah tertentu penduduk imigran yang kaya akan menjadikan Dubai sebagai tempat tinggalnya yang permanen, yang dengan demikian menanamkan akarnya bagi generasi-generasi masa depan.
Akhirnya, ceruk penduduk ini akan menuntut pengaruh dan peran serta lebih besar dalam urusan-urusan lokal, sehingga pada suatu saat UEA akan cenderung memperkenalkan pembaruan-pembaruan lebih demokratis dan mungkin memperbolehkan para imigran untuk urun tangan dalam tata pemerintahan, setidaknya pada tingkat kota. Hal tersebut juga memerlukan penggabungan antara identias-identitas tradisional lokal dengan identitas-identitas kebudayaan bangsa Emirat baru.
Namun, kebijakan yang berkaitan dengan para pekerja migran tetap mempertahankan perbedaan antara migran dengan penduduk dan budaya setempat. Mempertimbangkan peran penting kelas pekerja dalam ekonomi Dubai, kebijakan pemerintah akan sangat berkembang secara positif dengan menjadi lebih terbuka terhadap segmen penduduk ini.
Jika mengalihkan perhatian ke Amerika Serikat dan Eropa, kita menemukan bahwa tujuan utama adalah untuk mengurangi ketegangan-ketegangan yang berhubungan dengan integrasi antara minoritas imigran dan masyarakat lebih luas. Banyak imigran tertarik ke Amerika karena, mengingat identitas budaya "panci pembauran"-nya, mereka merasa bisa menjadi orang "Amerika" sejati sambil mempertahankan aspek-aspek budaya asli mereka. Namun, dalam praktiknya proses ini tidak selalu berjalan mulus.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan merupakan hal yang fundamental. Dengan memperbaiki tingkat pendidikan para imigran, pekerjaan yang diisi para imigran dalam perekonomian akan lebih beragam, mengurangi stereotip imigran yang hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar dan menyedot sistem tunjangan nasional.
Sistem pendidikan masyarakat seharusnya juga mendidik para muridnya sejak tingkat dasar dan menengah tentang Islam, politik Timur Tengah, dan budaya-budaya lain, sehingga warga negara biasa Amerika atau Eropa memiliki jalur ke informasi yang obyektif dan akademis tentang populasi-populasi imigran.
Sementara bagian-bagian lebih besar dari populasi imigran menjadi semakin terdidik, mereka juga cenderung menjadi semakin aktif secara politik. Misalnya, ketika pemilihan umum terakhir Prancis, persentase kalangan imigran yang pergi ke bilik-bilik suara meningkat sangat besar dibandingkan pemilihan sebelumnya. Dan terakhir, seorang laki-laki berbangsa Maroko dan seorang perempuan berbangsa Turki terpilih duduk dalam pemerintahan di Belanda. Dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan pendapatan dari kelompok-kelompok minoritas, jumlah dana yang dapat dikumpulkan oleh seorang kandidat minoritas ketika berkampanye juga meningkat, sebuah fakor yang penting dalam pemilihan umum Amerika.
Sementara para warga negara baru meraih baik keberhasilan ekonomis maupun politis, kemampuan mereka untuk menemukan suatu bauran sosial yang dapat terima oleh identitas kebudayaan mereka terdahulu dan identitas kebudayaan dari rumah baru mereka juga meningkat.
Namun, peristiwa-peristiwa seperti 11/9, pembunuhan sutradara film Belanda Theo van Gogh, dan pembunuhan di Virginian Tech oleh seorang penduduk asing AS berkebangsaan Korea, meningkatkan ketegangan-ketegangan. Tindakan-tindakan kekerasan publik ini sayangnya menciptakan rasa takut bahwa budaya-budaya imigran akan memberi dampak negatif bagi masyarakat tuan rumah mereka, dan karena itu, menciptakan kesan bahwa identitas-identitas kebudayaan ini harus ditekan.
Namun, pada satu saat dalam sejarah, paramigran Irlandia yang datang ke Amerika — yang sekarang merupakan bagian utama dari penduduk Amerika— menghadapi penganiayaan sebagai orang asing dan terlibat dalam gang dan berbagai tindak kekerasan. Namun, mereka sekarang dianggap sebagai bagian yang terpadu dari masyarakat dan budaya Amerika.
Dalam hal ini, semua bangsa dapat belajar dari sejarah mereka sendiri dengan menghargai perubahan yang telah terjadi dalam masyarakat mereka dan menerima kenyataan bahwa masyarakat, penduduk, dan budaya dari dulu selalu — dan akan terus — berubah.
sumber : http://www.commongroundnews.org/article.php?id=21838&lan=ba&sid=1&sp=0
Tidak ada komentar:
Posting Komentar