Nama saya Ismah Waty
Eka Putri, biasa dipanggil Ismah. Saya lahir di Jakarta pada tanggal 11 Mei
1992. Bicara soal nama, setiap orang tua memberikan nama pada anaknya pasti
memiliki arti. Seperti nama saya, kata Ismah itu diambil dari nama seorang
perawat yang pernah kakek saya kenal dulu, waty itu berarti wanita seperi
misalnya peragawati artinya peraga wanita, Ismah Waty artinya mungkin perawat
wanita, Eka artinya pertama, dan Putri artinya anak perempuan. Jadi kalau digabung nama saya artinya perawat
wanita anak perempuan pertama. Mungkin dulu orang tua saya dan kakek saya
menginginkan saya jadi seorang perawat,
tapi pada akhirya saya malah nyasar di jurusan Sistem Informasi, meski
bagaimanapun saya suka dengan nama pemberian orang tua saya.
Saya terlahir dari
pasangan Ayah bernama Imron dan Ibu bernama Artika dan alhamdulillah saya lahir
tanpa kekurangan sesuatu apapun. Saya anak pertama dari tiga orang bersaudara,
adik saya yang pertama laki-laki bernama Arfan Hamdi dan yang kedua perempuan
bernama Nadya Hamidah. Keluarga saya bukan tergolong keluarga yang kaya raya
tidak pula keluarga yang kekurangan, lebih tepatnya sederhana tapi lumayan
berkecukupan. Ayah dan ibu saya sudah berpisah semenjak saya kelas tiga SMA semester
awal. Saya tidak suka menyebut diri saya berlatar belakang keluarga “broken
home”, karena yang berpisah hanya ayah dan ibu saya, kami tetap keluarga
bagaimanapun keadaannya. Saya dan adik-adik saya tinggal bersama Ibu saya dan
nenek dari pihak Ibu di Cikarang sedangkan ayah saya tinggal di Jakarta bersama
kakek saya dari pihak ayah. Sesekali saya dan adik-adik saya pergi ke tempat
ayah untuk melepas rindu, atau ayah saya yang ke Cikarang dan sering pula
mengirim pesan juga menelpon kami.
Pendidikan adalah
prioritas yang sangat penting menurut orang tua saya, mereka rela banting
tulang asal saya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan
menyandang gelar yang saya inginkan. Dan bisa lebih dari mereka nantinya. Dari
semenja TK orang saya selalu memasukan di tempat yang bagus kualitasnya, TK
saya adalah TK Sariputra yang merupakan sekolah anak-anak swasta yang mayoritas
agamanya budha dan kristen dan memiliki kualitas yang paling bagus di Cikarang
pada masa itu. SD saya di SDN karang baru 02 begitu pula sekolah dasar ini dulu
adalah unggulan di daerah Cikarang, SMP saya di SMPN 1 Cikarang Utara dan SMA
saya juga di SMAN 1 Cikarang Utara yang cukup terkenal sebagai sekolah yang
bagus kualitas pendidikannya di daerah saya. Terakhir perguruan tinggi, saya
masuk ke Universitas Gunadarma yang pada saata saya mau mendaftar katanya
adalah Universitas swasta nomor satu di Indonesia dan urutan nomer 5
Universitas se-Indonesia dan saya memilih jurusan Sistem Informasi.
Saya adalah tipe orang
yang mudah sekali bosan, oleh sebab itu saya memiliki banyak atau lebih
tepatnya satu hobi dan beberapa cadangan hobi agar saya tidak bosan. Saya suka
sekali membaca, baca novel, komik, buku-buku yang bisa membuat saya tertarik
membacanya, majalah, artikel di koran, di Internet, apapun selain bacaan yang
kata-katanya susah saya pahami. Lalu saya hobi juga bernyanyi walaupun sering
dimarahin orang karena keseringan
nyanyi sesuka hati, tapi suara saya ehm katanya sih lumayan enak di dengar
hehe. Saya juga suka nonton, nonton dvd drama-drama korea, film-film Indonesia
yang bermutu seperti laskar pelangi, film-film tentang kisah cinta dan
persahabatan, kadang horor juga saya suka tapi tidak sendirian. Saya juga suka
dengerin musik apapun yang telinga saya cocok mendengarnya, saya suka bikin
teori-teori absurd tentang apapun, kehidupan, cinta, persahabatan, saya juga
suka sekali mendengar orang cerita hal-hal yang menurut saya menarik dan bisa
dijadikan tambahan pelajaran hidup bagi saya. Dan terakhir, yang mungkin tidak
banyak orang yang dekat dengan saya tahu, saya suka menulis puisi hahaha,
tentang apapun yang ada di hidup saya dan hanya untuk konsumsi diri saya
sendiri.
Selain hobi saya juga
punya banyak cita-cita dari kecil sampai sekarang. Dari kecil sebenarnya saya
ingin sekali menjadi dokter, saya suka pelajaran IPA, saya suka apapun tentang
kesehatan dan menolong orang lain, saat SD dan SMP saya masih berfikir bahwa
saya akan menjadi seorang dokter, lalu ketika saya SMA saya berubah nilai IPA
saya hancur-hancuran, saya juga baru tahu bahwa dokter itu biayanya tidak sedikit,
jadi saya ikhlaskan keinginan saya jadi dokter dan memilih menjadi seorang ahli
komputer yang sama sekali bukan impian saya. Sekarang cita-cita saya masih
banyak yang belum tercapai. Saya ingin menjadi sarjana s1 dulu, lalu mengejar
karir saya di dunia kerja nantinya, saya ingin membuat bangga dan membahagiakan
orang tua saya terutama ibu. Saya ingin merasakan tinggal di negara orang suatu
saat nanti entah untuk sekedar kerja atau sambil menuntut ilmu. Saya ingin
menjadi seorang istri dari sebuah keluarga kecil yang bahagia nantinya, menjadi
ibu yang baik bagi anak-anak saya juga nanti, dan mengabdi bagi keluarga saya.
Terakhir saya ingin menjadi manusia yang berguna, bukan hanya baik, tapi bermanfaat
bagi kehidupan orang lain, menjadi umat yang baik pula dan masuk surga. Amin.
Ada pepatah berkata
bahwa pengalaman adalah guru yang paling bijak. Begitupun dengan saya. Mungkin
pengalaman saya bukan pengalaman yang sangat luar biasa seperti orang-orang
hebat di luar sana tapi tetap pengalaman menjadi guru yang sangat bijak bagi
hidup saya. Dulu ketika saya berusia empat tahun, saya tingal di Tangerang
waktu itu adik saya yang laki-laki masih berusia dua tahun, ayah dan ibu saya
sedang dalam masa tersulit dalam keuangan. Ibu saya hanya seorang Ibu rumah
tangga biasa, ayah saya bekerja di sebuah proyek yang tidak pasti gajinya.
Karena masih kecil saya juga seperti anak-anak lain, suka sekali jajan, tapi
pada saat itu jajan adalah hal yang sangat amat mewah bagi saya. Saya pernah
dikunci didalam kamar sambil menangis hanya karena ingin jajan chiki, ibu saya
hanya memiliki uang seribu rupiah yang bahkan untuk makan pun dikasih tetangga
karena pada saat itu kami masih merantau dan jauh dari keluarga ibu dan ayah
saya. Keuangan yang sangat sulit membuat kami sekeluarga akhirnya memutuskan
pindah ke Cikarang mengikuti keluarga dari pihak ibu saya. Di Cikarang juga
tidak jauh beda, ibu saya mencoba berjualan berbagai macam makanan seperti
agar-agar, donat, lontong, apapun untuk dititip di warung tetangga. Selain itu
Ibu saya juga masak untuk katering orang-orang proyek yang mengontrak di rumah
nenek saya. Sedangkan Ayah saya sedang kesulitan karena tempat kerjanya
semena-mena terhadap hak ayah saya. Saya masih TK saat itu, tapi saya mengerti
betapa susahnya mencari rejeki, jangankan untuk uang jajan saya, untuk uang
makanpun sulit. Saya melihat sekali perjuangan ibu saya, tidak kenal lelah,
dipandang sebelah mata, melakukan apapun demi kelangsungan hidup kami, begitupun
dengan ayah saya. Saat itu saya mengerti bahwa orang-orang tidak pernah peduli
saat kita kesusahan, tapi mereka akan datang memuji, menjilat dengan tidak tahu
malu ketika kita sudah sukses. Dan Tuhan tidak akan pernah membiarkan umatnya
terus terpuruk dalam kesusahan, ada waktunya dia akan memutar roda kehidupan
dari dibawah menjadi di atas, begitupun sebaliknya. Seperti itupun kehidupan
saya dan keluarga saya, tadinya boneka beruang besar yang saya impi-impikan
baru bisa dibelikan ibu setelah tiga tahun saya memintanya, tadinya boneka
barbie murahan seharga lima ribu menjadi barang yang baru bisa saya beli dengan
mencuri uang yang harusnya saya tabung di tabungan sekolah, tadinya ke mall
adalah hal yang sangat luar biasa mewah dan hanya ketika perayaan ulang tahun
dan mau lebaran kami bisa kesana, tadinya saya dipandang sebelah mata, tapi
akhirnya Allah SWT yang sangat amat baik sangat amat luar biasa ajaib
memberikan hadiah dari perjuangan ayah dan ibu saya, menjawab doa-doa kami,
membalas semua kesusahan dan hinaan orang-orang terhadap kami. Ibu mulai kerja
di sebuah kantor yang cukup nyaman dengan gaji yang lumayan begitupun dengan ayah bekerja di pabrik tekstil yang
membuat keluarga kami lumayan berkecukupan. Dari semua itu saya belajar bahwa
tidak akan ada usaha yang sia-sia, dan hidup bukan hanya tentang pasrah dengan
keadaan dan meratapinya, tapi berusaha sampai Allah SWT melihat semua
perjuangan dan kesabaran kita dan memberikan hadiah yang layak untuk itu. Dan
saya bersyukur pernah merasakan betapa susahnya kehidupan di usia saya yang
masih sangat dini, jadi saya bisa tau betapa beruntungnya saya sekarang, betapa
nikmatnya karunia yang Allah SWT berikan kepada saya dan keluarga saya.
Tentang kehidupan
menurut saya adalah proses timbal balik. Seperti jika kita ingin dihargai maka
harus menghargai orang lain terlebih dahulu, jika ingin dimengerti maka harus
mengerti, jika ingin didengarkan harus mendengarkan, begitu seterusnya.
Walaupun kadang apa yang dilakukan untuk orang lain kadang tidak sesuai dengan
balasannya tapi kita akan mendapatkan balasan itu dari Tuhan, karena tidak akan
ada yang sia-sia. Dan hidup bukan hanya tentang menerima tapi juga memberi.
Jika kita hidup hanya ingin menerima tanpa memberi itu artinya kita hidup
menjadi orang yang egois dan serakah .