RE Martadinata ambles karena pengerukan laut
DUTA MASYARAKAT, 29 September 2010
JAKARTA
Amblesnya Jl RE Martadinata, Jakarta Utara menimbulkan spekulasi terkait kontruksi pembuatan jalan. Namun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menuding pengerukan laut di sekitar lokasi sebagai penyebab ablesnya jalan.
"Faktor utama penyebabnya adalah pengerukan laut di sekitar lokasi untuk manuver kapal. Ini membuat terjadinya pengikisan pondasi jalan," ujar peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi kemacetan dan LIPI, Otto SR Ongkosongo, Selasa (28/9).
Menurut Otto, pengerukan yang dilakukan pihak pelabuhan Tanjung Priok tidak memperhatikan aspek kekuatan pondasi jalan. Hal ini membuat jalan yang baru dibangun setahun lalu tersebut ambles.
"Struktur tanah di situ itu tidak padat, sehingga ketika ada pengerukan lambat laun pasti ambles. Apalagi tidak ada dinding pembatas antara jalan dengan laut," terangnya.
Otto pun menyarankan agar perbaikan jalan yang merupakan urat nadi perekonomian Jakarta tersebut menggunakan pembatas. Pembatas bisa dilakukan dengan membuat tiang pancang yang ditanam di dasar laut.
"Kalau tidak maka bisa ambles lagi. Yang ambles itu sekitar 2.000 meter kubik, material tanah dan jalan hilang begitu saja," terangnya.
Staf Khusus Presiden bidang Bencana dan Bantuan Sosial, Andi Arief, mengatakan, kasus ambrolnya Jalan RE Martadinata, menunjukkan kondisi tanah Jakarta, khususnya Jakarta Utara sangat labil. Terkait hal itu, Pemprov DKI seharusnya mulai serius membuat peta mikrozonasi gempa sebagai panduan untuk mitigasi dan antisipasi.
"Ambrolnya Jalan RE Martadinata juga menunjukkan labilnya tanah di kawasan Jakarta Utara. Belum ada gempa saja sudah seperti itu. Karena itu, Pemprov DKI harus segera membuat peta mikrozonasi gempa," ujar Andi Arief.
Andi menambahkan, pembuatan peta mikrozonasi harus diikuti dengan emergency plan untuk mengamankan beberapa infrastruktur penting seperti perbankan, telekomunikasi, dan internet.
"Beberapa kota besar di dunia seperti Tokyo, Ankara, dan Manila, telah memiliki peta mikrozonasi gempa semacam ini. Peta mikrozonasi ini harus dimiliki semua pemda di Indonesia. Peringatan para ahli itu harus didengar," ujar Andi.
Seperti diketahui, Jalan RE Martadinata ambles sedalam 7 meter dengan panjang patahan 103 meter, 16 September lalu. Peristiwa ini membuat arus lalu lintas di jalur vital tersebut terputus. Arus kendaraan dari Ancol menuju pelabuhan Tanjung Priok terpaksa dialihkan melalui Jl Pengadilan, Sunter Podomoro, kemudian tembus ke Jl Yos Sudarso.
Dinas Bina Marga menyatakan ambrolnya Jalan RE Martdinata akibat tidak stabilnya tanah di dasar laut. Bahkan, setiap tahun jalan arteri Ancol-Tanjung Priok tersebut ambles sedalam 60 centimeter. Dinas Bina Marga menuding aktivitas pengerukan tanah di dasar laut menjadi faktor penyebab tanah di dasar laut tidak stabil.
"Faktor utama penyebabnya adalah pengerukan laut di sekitar lokasi untuk manuver kapal. Ini membuat terjadinya pengikisan pondasi jalan," ujar peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi kemacetan dan LIPI, Otto SR Ongkosongo, Selasa (28/9).
Menurut Otto, pengerukan yang dilakukan pihak pelabuhan Tanjung Priok tidak memperhatikan aspek kekuatan pondasi jalan. Hal ini membuat jalan yang baru dibangun setahun lalu tersebut ambles.
"Struktur tanah di situ itu tidak padat, sehingga ketika ada pengerukan lambat laun pasti ambles. Apalagi tidak ada dinding pembatas antara jalan dengan laut," terangnya.
Otto pun menyarankan agar perbaikan jalan yang merupakan urat nadi perekonomian Jakarta tersebut menggunakan pembatas. Pembatas bisa dilakukan dengan membuat tiang pancang yang ditanam di dasar laut.
"Kalau tidak maka bisa ambles lagi. Yang ambles itu sekitar 2.000 meter kubik, material tanah dan jalan hilang begitu saja," terangnya.
Staf Khusus Presiden bidang Bencana dan Bantuan Sosial, Andi Arief, mengatakan, kasus ambrolnya Jalan RE Martadinata, menunjukkan kondisi tanah Jakarta, khususnya Jakarta Utara sangat labil. Terkait hal itu, Pemprov DKI seharusnya mulai serius membuat peta mikrozonasi gempa sebagai panduan untuk mitigasi dan antisipasi.
"Ambrolnya Jalan RE Martadinata juga menunjukkan labilnya tanah di kawasan Jakarta Utara. Belum ada gempa saja sudah seperti itu. Karena itu, Pemprov DKI harus segera membuat peta mikrozonasi gempa," ujar Andi Arief.
Andi menambahkan, pembuatan peta mikrozonasi harus diikuti dengan emergency plan untuk mengamankan beberapa infrastruktur penting seperti perbankan, telekomunikasi, dan internet.
"Beberapa kota besar di dunia seperti Tokyo, Ankara, dan Manila, telah memiliki peta mikrozonasi gempa semacam ini. Peta mikrozonasi ini harus dimiliki semua pemda di Indonesia. Peringatan para ahli itu harus didengar," ujar Andi.
Seperti diketahui, Jalan RE Martadinata ambles sedalam 7 meter dengan panjang patahan 103 meter, 16 September lalu. Peristiwa ini membuat arus lalu lintas di jalur vital tersebut terputus. Arus kendaraan dari Ancol menuju pelabuhan Tanjung Priok terpaksa dialihkan melalui Jl Pengadilan, Sunter Podomoro, kemudian tembus ke Jl Yos Sudarso.
Dinas Bina Marga menyatakan ambrolnya Jalan RE Martdinata akibat tidak stabilnya tanah di dasar laut. Bahkan, setiap tahun jalan arteri Ancol-Tanjung Priok tersebut ambles sedalam 60 centimeter. Dinas Bina Marga menuding aktivitas pengerukan tanah di dasar laut menjadi faktor penyebab tanah di dasar laut tidak stabil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar